Kamis, 26 Juli 2012

KESATUAN HATI (2)

WARTA SEPEKAN 29 JULI 2012

RENUNGAN KHUSUS

KESATUAN HATI (2)

EMPAT MAKNA KESATUAN HATI :

1. Seperti Sebuah Bangunan

2. Seperti Tubuh Manusia

3. Seperti Sebatang Pohon

Yesus berkata bahwa terhubung secara rohani itu keadaannya seperti ranting yang melekat pada batangnya, ranting anggur atau ranting tomat, atau ranting apa saja. Menarik sekali bahwa Yesus memperkatakan hal itu tepat sebelum Dia disalibkan. Kita pasti mengerti bahwa apapun yang akan dikatakan-Nya kepada orang-orang yang mengikuti-Nya pada saat-saat terakhir sebelum Dia disalibkan, pasti merupakan hal yang terpenting. Ia mengatakan semua ini dalam Yohanes 14, 15, 16. Di sini Dia memberikan instruksi-instruksi terakhirnya kepada para pengikut-Nya. Dari semua hal yang bisa saja dikatakan-Nya, inilah pilihan-Nya.

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yohanes 15:4).

Dia berkata bahwa ini sangat penting:

• bukan saja Anda membutuhkan penopang seperti dalam sebuah bangunan,

• bukan saja Anda membutuhkan darah kehidupan seperti dalam sebuah tubuh,

tetapi Dia berkata bahwa:

• Anda tidak akan berbuah,

• hidup Anda tidak akan produktif kalau Anda berdiri sendiri. Anda harus terus terhubung.

“Roh Allah bersama-sama dengan roh kita [inilah hubungannya: Ia bersama-sama dengan roh kita] menyatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah.” (Roma 8:16).

Kita semua perlu memiliki hubungan seperti itu dengan Allah. Doa saya adalah supaya Anda memiliki hubungan itu sehingga Anda dapat berkata,

• Tidak mungkin saya tidak percaya kepada Allah.

• Saya terhubung dengan Dia sepanjang waktu.

• Saya berbicara dengan Dia, dan

• Dia berbicara kepada saya dan saya mendengarnya.

Saya mendengar suara-Nya. Bukan secara jasmani. Allah tidak harus berbuat demikian. Kita menerima signal radio dan signal TV melalui udara dan tidak mengerti cara kerjanya. Allah tidak harus menaruh papan pengumuman yang terlihat jelas.

Yesus berkata, “Aku ingin kamu terhubung dan Aku mau kamu dipersatukan dengan Aku, sebab ranting yang tidak menempel pada pohon; tidak dapat menghasilkan buah. (Yohanes 15:2).

Buah apa?

“Buah Roh ialah [ada sembilan macam] kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Galatia 6:22-23).

Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, tetapi saya ingin memiliki kesembilan buah itu dalam hidup saya.

Saya ingin:

• lebih penuh kasih,

• memiliki lebih banyak sukacita,

• mengalami damai sejahtera apapun yang terjadi dengan perekonomian kita

• lebih sabar menghadapi orang-orang yang berbuat jahat terhadap saya

• menjadi orang yang baik, bukan orang yang jahat.

• setia, bukan sebaliknya. Selalu menepati janji saya

• bersikap lemah lembut pada orang-orang yang tidak terlalu lemah lembut – khususnya ketika mereka sedang bersikap kasar, galak, dan membentak-bentak

• dan saya ingin dapat lebih menguasai diri saya.

Dia berkata bahwa semua itu disebut buah Roh.

4. Seperti Sebuah Keluarga

Allah berkata, “Aku ingin kamu mengerti betapa pentingnya untuk terhubung secara rohani dengan satu tubuh, dengan satu gedung, dengan satu pohon, seperti bayi yang dilahirkan pada satu keluarga.”

Tentu saja ini adalah gambaran tentang gereja yang paling saya sukai karena gambaran ini tidak memerlukan penjelasan. Kita adalah keluarga Allah. Hanya ada dua cara untuk masuk ke dalam satu keluarga. Anda terlahir dalam keluarga itu atau Anda diadopsi. Cuma dua cara itu yang tersedia untuk masuk ke dalam satu keluarga.

Dalam Alkitab, Allah melakukan keduanya untuk kita. Hal itu disebut dilahirkan kembali dan disebut diangkat menjadi keluarga Allah. Allah melakukan keduanya. Yang hebat tentang hal itu adalah karena dalam hukum Romawi pada masa Perjanjian Baru;

• seseorang dimungkinkan untuk tidak mengakui bayi yang ia lahirkan,

• tetapi kalau ia mengadopsi seorang anak, ia dilarang untuk tidak mengakui dia.

Allah berkata bahwa kita bukan saja dilahirkan kembali ke dalam keluarga-Nya, tetapi Dia juga telah mengadopsi kita dan tidak ada cara yang dapat dilakukan untuk tidak mengakui kita. Luar biasa! Itulah kabar terbaik bagi kita!

Anak-anak kita tidak selalu melakukan apa yang kita inginkan. Kadang-kadang mereka malah melakukan kebalikannya. Tetapi apapun yang mereka lakukan, bahkan kalau mereka bertumbuh menjadi teroris, mereka akan selalu menjadi anak kita. Apapun yang mereka lakukan.

Sekali kita terlahir, status itu tidak dapat dibatalkan. Alkitab berkata bahwa Dia setia, sekalipun kita tidak setia. Kita mungkin saja mendukakan Bapa, seperti ketika kita dari masa kanak-kanak bertumbuh menjadi dewasa; sering kali mendukakan orang tua. Persekutuan mungkin terganggu, tetapi tidak ada satupun insiden yang akan menyebabkan mereka tidak mengakui kita sebagai anak, bahkan sekalipun ketika sedang marah mereka berkata, “Mulai sekarang kamu bukan anak kami lagi”, hal itu mustahil mereka lakukan, semua orang tahu kita masih tetap anak mereka. Sekali kita menjadi anak dalam keluarga Allah, kita akan tetap menjadi anak.

Perhatikan : “Jadi … sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, [Kemudian ia memberitahu kita apa itu keluarga Allah] yakni jemaat dari Allah yang hidup.” (1 Timotius 3:15).

Kita adalah keluarga Allah. Gereja bukanlah tempat atau bangunan yang kita datangi. Gereja adalah sesuatu yang memiliki kita.

• Kita ditanam ke dalam bangunan bait Allah

• Kita dicangkok kepada pohon kehidupan

• Kita dilahirkan kembali dan diadopsi ke dalam keluarga Allah.

Allah yang mengatakan semua ini, sebagai cara untuk mempersatukan kita ke dalam tubuh Kristus. Semua ini merupakan model hubungan. Dia berkata bahwa Kekristenan itu seperti dilahirkan ke dalam satu keluarga.

“Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” (Roma 15:7).

Terhubung secara rohani merupakan cara untuk memuliakan Allah. Kita semua akan menjadi satu dan kita akan memuliakan Allah. Kita tidak diijinkan untuk membenci siapapun, karena apapun yang mereka lakukan, atau siapapun mereka. Tetapi itu tidak berarti bahwa kita harus menyetujui segala sesuatu yang mereka lakukan. Seperti dalam keluarga, kita belum tentu menyetujui semua yang dilakukan oleh saudara kita, tetapi kita mengasihi dia.

Seperti dilahirkan ke dalam satu keluarga. Ia berkata bahwa Allah dimuliakan ketika kita saling mengasihi. Kata “saling” digunakan lima puluh delapan kali dalam Perjanjian Baru. Dan lima puluh delapan kali Alkitab berkata bahwa kita harus mengasihi satu sama lain.

Alkitab berkata bahwa kita harus:

• saling mendoakan

• saling memperhatikan

• saling melayani

• saling memberi salam

• saling menolong

• saling mendorong / mendukung

Bila kita dapat mempelajari seluruh kitab dalam Perjanjian Baru dan menemukan ke lima puluh delapan “saling” itu, itulah kewajiban kekeluargaan kita. Apakah Anda melakukannya?

Ketika kita tidak memenuhi apa yang Allah rancangkan bagi kita, tidak berada dalam keluarga Allah dan dan karena itu tidak berada dalam posisi untuk memenuhi kewajiban-kewajiban kekeluargaan kita, kita gagal mencapai keberadaan kita di dalam Tuhan yang sepenuhnya; dan karena itu kita akan gagal memenuhi tujuan hidup yang Allah sediakan bagi kita.

Kita tidak dapat memenuhi tujuan Allah sendirian. Itu sesuatu yang mustahil karena yang nomor satu Allah inginkan dalam hidup kita adalah belajar mengasihi. Kasihi Dia dan kasihi sesama. Ini berarti kita harus berada bersama orang lain. Kita tidak dapat melakukannya sendiri. Anda tidak dapat menjadi menjadi biarawan / pertapa atau guru yang tinggal di puncak gunung. Anda harus berada bersama orang lain. Karena yang paling penting adalah belajar mengasihi. Semua ini menyangkut hubungan.

Untuk bergabung dalam gereja ini kita harus memiliki komitmen, “Saya berjanji akan mengasihi orang lain dalam keluarga gereja saya.” Anda tidak harus menyukai mereka. Tetapi Anda harus mengasihi mereka. Ada orang-orang yang sulit sekali untuk disukai, namun harus kita kasihi.

Apa itu kasih? Memberikan kepada mereka apa yang mereka perlukan, bukan apa yang mereka pantas dapatkan. Kalau orang menyakiti Anda, itu hanya berarti bahwa mereka lah yang terluka. Mereka sedang menyakiti diri mereka sendiri dengan hebat.

Persaingan Gereja ini bukanlah dengan gereja-gereja lain. Saingan kita adalah dunia, kedagingan, dan iblis; dan sesama kita dalam konteks kita sebagai Gereja adalah masyarakat yang tersisih dan tidak terjangkau.

[HP]

0 komentar:

Poskan Komentar